Cara Bangkitkan Orang Mati
Lewat Sains
Dengan suhu yang tepat, seseorang bisa dibangkitkan
lagi. Tapi, ada beberapa ketentuan yang harus ditaati.
Dalam
pertemuan itu, dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada
orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipothermia atau pendinginan
tubuh dan pengurangan suplai oksigen. Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan
baru tentang kematian.
Sebelumnya,
kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan
paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernafas. Dalam pandangan
baru, kematian bukan dipandang sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak
di semua bagian tubuh, namun sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan
nafas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.
Kematian
total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak
kekurangan oksigen akibat terhentinya jantung dan nafas, sehingga rusak dan
mengirim sinyal bagi sel-sel lain akan saat kematian. Dalam gagasan para pakar,
ada jeda antara henti jantung dan nafas dengan kematian total. Jeda itu yang
kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya
dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.
Proses
tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya
menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak
akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen. Diberitakan Huffington Post,
Senin (21/10), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah
satunya adalah hipothermia, di mana tubuh didinginkan beberapa derajat lebih
rendah daripada suhu nromalnya, 37 derajat Celsius.
Berdasarkan
studi, hipothermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan
permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen di mana
kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.
Kemudian,
setelah prosedur hipothermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga
suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak
negatif karena akan merusak jaringan otak. Hipothermia terbukti membantu
prosedur resusitasi.
Namun,
bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipothermia.
Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.
Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin
agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.
Penyadaran
kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya,
upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung
berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan
proses resusitasi lebih komprehensif?
Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak yang masih terbatas. Iluwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula. Ditambahkan Mayer, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.
Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak yang masih terbatas. Iluwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula. Ditambahkan Mayer, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar